Ni kejadian juga saat masih duduk di bangku SMP dolo. Hati itu hari jumat. Seperti biasanya kalo hari jum'at pulangnya agak buru-buru, takut nanti kalo sampai rumah telat ikut sholat jum'at. Maklum harus ngayuh sepeda ontel dan jaraknya pun lumayan jauh.
Belum jauh dari sekolahan, baru sekitar 3 kilo lah, cerita ini dimulai. Lagi asyik-asyiknya ngayuh ontel, aku melihat seseorang sedang menebang pohon pisang di tepi jalan. Dengan teori relativitas aku dihadapkan pada dua pilihan. Kecepatan ontelku harus aku kurangi atau justru harus aku tambahi. Dilatarbelakangi takut sampe rumah telat gak ikut jumatan, aku pilih opsi yang kedua, kecepatan aku tambahi, dengan harapan pohon pisang roboh setelah aku berhasil melewatinya.
Walhasil, yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan. Tepat ketika sampe di samping pohon itu, pohon tersebut pun roboh, mengenai diriku dan ontelku. Aku pun terpelanting masuk ke parit. Untungnya sebelum parit ada beberapa tanaman bunga yang ditanam di pinggir jalan. Aku lihat ada satu yang tercerabut akarnya karena kerasnya benturan. Namun kalo aku tidak menabrak pohon tersebut sebelumnya, bisa jadi akibatnya lebih fatal. Karena bisa jadi aku akan membentur tembok parit dengan sekeras-kerasnya. Buntungnya aku lihat beberapa bagian tubuhku banyak yang terluka, terutama bagian kaki. Saya lihat pak penebang pohon hanya terbengong-bengong, tidak segera menolongku. Aku bergegas untuk bangun. Baru pak penebang pohon bergegas menghampiri, bukan menolongku tapi menolong ontelku. Diangkatnya ontelku ke tepi jalan.
Denngan terseok-seok dan menahan sakit, kuhampiri ontelku. Ku coba mengayuhnya kembali tuk melanjutkan perjalanan pulang. Pelan-pelan sambil menahan sakit terus aku kayuh ontelku. Akhirnya aku pun sampai di rumah dengan selamat, walau tidak ikut jumatan karena telat.







0 comments:
Post a Comment